3 Mencatat isi pokok bacaan. Pada teks di atas, diketahui sejumlah informasi nama-nama tempat, sebagai berikut: 1. Tana Toraja. 2. Perbahu Bendurana. 3. Sungai Bolu (Kecamatan Rantepao). Berdasarkan penjelasan di atas, dilihat dari tempat-tempat yang disebutkannya, cerita rakyat tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.
PresidenJoko Widodo (kanan) menyerahkan plakat anugerah gelar pahlawan nasional kepada ahli waris tokoh asal Sulawesi Tenggara Sultan Himayatuddin, Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi,SH (kiri) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/11/2019). dia mempunyai kekuatan di dalam masyarakat yang sangat menonjol dan menentukan. Kadis Dikbud Sultra
KesiapanPLN telah didukung sistem kelistrikan di Sulawesi Tenggara, yang merupakan pembangkit yang masuk kedalam sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Dengan total daya mampu sistem Sulbagsel mencapai 2.269 MW, sistem ini memiliki beban puncak sebesar 1.401 MW, sehingga memiliki reserve margin atau cadangan daya sebesar 868 MW.
ArieFrederik Lasut, Pahlawan Pertambangan dan Geologi dari Sulawesi Utara. 30/07/2020. Next. Seni & Budaya. Rumah Bale, Tempat Tinggal Tradisional Suku Sasak di Lombok. 01/02/2021. Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara. 17/05/2020. Terompah Sultan Gajadean, Cerita Rakyat Maluku. 28/07/2020. Next. Fakta Daerah. Daftar Nama Kabupaten dan Kota di
Lagudaerah yang berasal dari Sulawesi Tenggara - Lagu daerah yang berasal dari Sulawesi Tenggara banyak menggambarkan tentang keindahan potensi alam dan kekaya. close click 2x. Skip to the content. Lagu ini sangat erat kaitannya dengan cerita rakyat yang sangat dibanggakan masyarakat di daerah tersebut.
CeritaRakyat Sulawesi Tenggara : Kisah La Sirimbone 17 Juli 2015 dongeng cerita rakyat Tinggalkan komentar Kebaikan hati La Sirimbone pada Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara membawa dia kepada keberuntungan.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kali ini cerita rakyat Indonesia sampai ke cerita rakyat Kepri tentang kisah mistis dan kepahlawanan patahnya Gunung Daik hingga bercabang tiga di Lingga. Ada tiga versi cerita rakyat Kepri tentang asal usul Gunung Daik yang mempunyai puncak bercabang tiga dan masing-masing puncaknya memiliki nama.
Asia Tenggara merupakan asal tanaman pisang. Tak heran jika Indonesia merupakan salah satu negara produsen pisang dunia. Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah merupakan daerah penghasil pisang terbesar di Indonesia. “Sedangkan untuk luar Pulau Jawa, produksi terbesar berasal dari Sulawesi Selatan,” tulis Suyanti dan Supriyadi.
Baca Juga: Air Terjun Cuup Psuk: Legenda 'Orang Sakti' hingga Cerita Ular Naga) Jangan khawatir, penampakan makhluk yang diduga jin tak selalu buruk lho! Tersohorlah hantu-hantu perempuan asli Indonesia yang kecantikannya melegenda. Sebut saja Kandole dari Sulawesi Tenggara, suster ngesot, sampai Maryam Si Manis Jembatan Ancol.
Makalahini menganalisis transformasikisah Tantri dari cerita lisan ke dalam bentuk novel. Analisis difokuskan pada struktur, isi, dan pesan moral cerita. Kajian isi dilakukan untuk mengungkapkan bentuk dan makna adaptasi nilai-nilai pembentukan karakter dari cerita lisan ke dalam novel.
Ridwan Bae terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Golongan Karya (Golkar) mewakili Dapil Sulawesi Tenggara setelah memperoleh 91,747 suara. Ridwan adalah politisi senior Golkar di Sulawesi Tenggara. Ridwan adalah mantan Bupati Muna (2000-2010) dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara. Ridwan
Legenda Asal Usul Sungai Oyo dam Sungai Susua yang Berasal dari Pulau Nias. Juli 14, 2022. Nias adalah sebuah pulau dan kepulauan yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, Indonesia. di tanggal 26 Desember 2004, pulau kecil ini diterjang gempa bumi yang berasal dari Samudra Hindia, hingga menimbulkan tsunami setinggi 10 meter di daerah
ayam dari sulawesi tenggara yang . mengisahkan kecerdikan ayam dal am . nilai-nilai pendidikan karakter dapat diperoleh dari cerita rakyat yang ada di Indonesia khususnya di daerah Minahasa
20 Tari Tradisional Sumatera Selatan Lengkap Penjelasan + Gambar. Tari Tumatenden, Tarian Tradisional Dari Provinsi Sulawesi Utara. Penari wanita yang tidak mendapatkan selendang pun menari dengan gerakan seperti kebingungan. Lalu penari pria datang membawa selendang yang dicurinya dan menghampiri penari wanita tersebut dengan gerakan seperti
Ayah La Moelu. Baik Hati. Pengertian. Penyayang. seorang anak yang bernama la moelu yang menemukan ikan kecil yang diberi nama Jinnande teremombonga yang dapat tumbuh besar dengan cepat, suatu hari ikan tersebut di tangkap oleh 7 pemuda dan di sembelih kemudian di bawa oleh 7 pemuda tersebut. la moelu pun mengetahui jinnande teremombonga telah
8u8U. Makassar - Salah satu cerita rakyat Sulawesi Tenggara yang cukup populer adalah cerita tentang asal-usul Gunung Mekongga. Cerita rakyat ini masih hidup dan dipercaya di kalangan masyarakat secara Mekongga adalah sebuah gunung tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bahkan gunung ini pun termasuk ke dalam 7 gunung tertinggi yang ada di Pulau yang terletak di Kabupaten Kotala ini kerap menjadi incaran para pendaki dari berbagai daerah. Puncak tertingginya bernama puncak Masero-sero dengan ketinggian mencapai 2,620 mdpl. Di balik kokohnya Gunung Mekongga ini, terdapat cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-muasal tempat tersebut. Yakni legenda tentang seekor burung elang raksasa yang bernama seperti apa cerita rakyat tentang asal-usul Gunung Mekongga yang merupakan salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara? Berikut kisah selengkapnya dirangkum detikSulsel dari laman Perpustakaan Digital Budaya pada jaman dahulu di Negeri Sorume sekarang Kolaka, Sulawesi Tenggara hiduplah seekor burung garuda raksasa bernama Burung Kongga. Burung tersebut selalu membuat kekacauan di desa ia akan terbang dan memangsa hewan-hewan ternak milik penduduk desa. Bahkan jika ia tidak menemukan hewan, ia akan menculik seorang manusia dan penduduk merasa resah dan ketakutan dibuatnya. Semakin hari ternak-ternak milik warga perlahan semakin habis itulah penduduk Sorume pun mencari cara untuk mengatasi burung Kongga di sebuah negeri seberang bernama negeri Solumba sekarang Balandete, terdengarlah kabar bahwa ada seorang sakti mandraguna. Ia bernama adalah seorang tokoh yang datang dari tanah Luwu. Ia adalah kerabat dekat Sawerigading, yang merupakan tokoh penting nenek moyang orang dikutip dari laman resmi Kabupaten Kolaka, Sawerigading hidup sekitar abad XIV. Ia adalah cucu Batara Guru yang diutus oleh para Dewata untuk turun ke dunia dan memerintah di tanah Luwu kemudian menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Sulawesi adalah keluarga dekat Sawerigading yang kemudian berangkat ke Tanah Alau Negeri di Timur. Tana Alau adalah sebutan orang Luwu untuk wilayah Sulawesi Tenggara karena mereka melihat matahari terbit di pagi hari ke arah di Tanah Alau, Ia pun menetap dan mendirikan kerajaan di Negeri Solumba. Di mana wilayah tersebut didiami oleh masyarakat yang menyebut dirinya 'Orang Tolaki' yang berarti orang-orang para penduduk di Sorume pun lantas mengirim utusan ke Negeri Solumba untuk menemui Larumbalangi. Serta bermaksud meminta kesediaan Larumbalangi untuk membantu mengusir burung elang Raksasa di negeri Solumba, para utusan itupun kemudian menceritakan mengenai peristiwa yang menimpa negeri mereka pada Larumbalangi. Ia pun memberikan saran pada penduduk Sorume untuk menggunakan bambu runcing untuk melawan si burung Kongga raksasa."Untuk mengatasi garuda raksasa, kalian harus menggunakan strategi yang tepat. Kumpulkanlah oleh kalian bambu tua kemudian buat ujungnya menjadi runcing. Olesi juga ujungnya dengan racun. Carilah seorang pemberani di negeri kalian untuk melawan si garuda raksasa. Pagari ia dengan bambu runcing. Jadi apabila burung Kongga menyerang, ia akan tertusuk oleh bambu beracun tersebut," kata utusan pun berterima kasih atas saran tersebut. Bergegaslah mereka pulang ke Negeri Sorume untuk melaksakan wasiat bambu runcing di Sorume, para utusan menceritakan saran Larumbalangi itu kepada para para tetua ada pun segera mengadakan sayembara guna mencari laki-laki pemberani untuk melawan burung raksasa tersebut menjanjikan bahwa siapapun yang bisa melawan si Burung Kongga Raksasa, jika ia adalah seorang rakyat jelata maka akan diangkat menjadi Bangsawan. Dan jika ia dari kalangan bangsawan, maka akan diangkat menjadi pemimpin hari Sayembara tersebut diadakan, ratusan pendekar dari berbagai wilayah untuk mengikutinya. Setiap orang menunjukkan kemampuannya di depan para tetua dan sesepuh negeri setelah melalui persaingan dan pemilihan yang ketat, terpilihlah seorang pemenang yang bernama Tasahea. Ia adalah seorang rakyat biasa namun pemberani dari negeri para sesepuh kemudian meminta penduduk untuk membuat bambu runcing yang diujungnya diolesi racun. Selanjutnya bambu-bambu runcing itu pun ditancapkan di Padang kemudian dimasukkan ke dalam lingkaran yang dikelilingi bambu beracun. Ia kemudian ditinggalkan sendirian untuk memancing si burung Garuda Raksasa berjam-jam Tasahea berdiri di dalam bambu runcing, namun burung garuda raksasa belum juga kelihatan. Hingga pada saat siang hari, tiba-tiba saja cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan gelap itulah Tasahea melihat burung garuda raksasa terbang mendekatinya. Dengan suaranya yang menggelegar, burung raksasa tersebut siap menyerang dan memangsa belum sempat menyentuhnya, sayap si garuda tertusuk oleh bambu runcing beracun. Burung garuda raksasa pun mengerang ingin menyia-nyiakan kesempatan, Tasahea pun segera mengambil sebilah bambu runcing beracun yang ada di sampingnya. Dan lantas melemparkannya dan mengenai bagian dada si burung garuda semakin meronta-ronta kesakitan. Ia pun memutuskan untuk terbang menjauh dari tempat itu. Di kepakkan sayapnya lagi untuk melepaskan diri dari bambu runcing beracun segera terbang tinggi namun tak berapa lama, tubuhnya pun terjatuh tepat di atas sebuah gunung. Tak lama berselang, sang Garuda akhirnya mati terkena efek racun bambu negeri Sorume bersorak-sorak mengelu-elukan Tasahea sebagai kegembiraan rakyat tidak berlangsung lama. Bangkai burung garuda raksasa ternyata menyebarkan wabah penyakit. Banyak penduduk meninggal setelah muntah-muntah karena wabah penyakit. Begitu pula tanaman penduduk banyak mati diserang hal ini para tetua adat kembali mengirim utusan untuk menemui Larumbalangi. Sesampainya di negeri Solumba, para utusan menyampaikan permasalahan wabah yang berasal dari bangkai burung garuda Kongga kepada hal ini, Larumbalangi segera berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan hujan deras agar bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat terbawa mengabulkan doa Larumbalangi. Negeri Sorume dilanda hujan sangat deras selama tujuh hari tujuh malam. Akibatnya Negeri Sorume mengalami banjir hebat. Banjir hebat tersebut membawa bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat hanyut terbawa hujan reda & banjir surut, wabah penyakit beserta ulat yang melanda negeri Sorume akhirnya hilang. Rakyat negeri Sorume bergembira, akhirnya kedamaian bisa hadir di negeri menghargai jasa Tasahea & Larumbalangi, para tetua ada sepakat mengangkat Tasahea menjadi bangsawan. Sedangkan Larumbalangi diangkat sebagai pemimpin negeri tempat jatuhnya burung garuda raksasa tersebut pun diberi nama Gunung Mekongga. Simak Video "Dataran yang Terangkat, Kisah Puncak Khayangan Wakatobi " [GambasVideo 20detik] edr/alk
Kamu sedang mencari bacaan untuk menghabiskan waktu luang? Bila ingin membaca cerita rakyat Nusantara, kisah dari Sulawesi Selatan berjudul Oheo mungkin bisa kamu jadikan pilihan. Kisah lengkapnya bisa kamu baca di artikel ini!Sulawesi Tenggara memiliki banyak legenda atau cerita rakyat. Selain La Sirimbone, La Moelu, dan Gunung Mekongga, ada pula cerita rakyat Oheo. Legenda tersebut memiliki kisah yang menarik dan sarat adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai petani tebu. Dalam cerita rakyat ini, ia mencuri selendang dari Bidadari yang sedang mandi di sebuah sungai. Sempat tak mengakui perbuatannya, pemuda itu akhirnya meminta sang Bidadari untuk menikah bagaimanakah kelanjutan cerita rakyat Oheo? Apakah bidadari itu setuju menikah dengannya? Kalau penasaran, teruskan saja membaca artikel ini. Tak hanya kisahnya saja, berikut ini telah kami paparkan juga unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Selamat membaca!Cerita Rakyat Oheo Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda bernama Oheo yang tinggal di sebuah desa kecil di Sulawesi Tenggara. Untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya, ia bekerja sebagai seorang petani tebu. Tiap pagi, ia pergi ke hutan untuk mengunduh tebu. Di dalam hutan itu terdapat sungai yang airnya sangat jernih. Usai mengunduh tebu, ia mencucinya di sungai sambil melihat burung-burung nuri yang sedang asyik bermain air. Pada suatu siang, Oheo yang hendak ke sungai untuk mencuci tebu, mendengar suara para gadis. Ia lalu mengintip sungai itu dari balik pohon. Ternyata, ada 7 bidadari cantik yang sedang mandi di sungai itu. “Wah, baru kali ini aku melihat para-paras cantik bidadari. Aku ingin menikahi salah satu dari mereka. Tapi, bagaimana caranya, ya?” ucap pria itu dalam hati. Saat sedang berpikir, ia melihat selendang miliki para bidadari itu yang letaknya tak jauh dari persembunyiannya. Dengan cepat dan acak, ia mengambil salah satu selendang. “Mungkin saja aku bisa menikahi pemilik selendang ini,” ujarnya dalam hati. Ia lalu menyembunyikan kain itu di ujung kasau bambu. Kemudian, ia kembali ke sungai untuk melihat siapakah pemiliki selendang itu. Ia lalu mendapati sang bidadari sedang kebingungan mencari selendangnya. Ia tak bisa kembali ke khayangan. Sedangkan bidadari yang lain sudah kembali ke khayangan terlebih dahulu. Baca juga Cerita Rakyat Asal-Usul Gunung Pinang dan Ulasan Lengkapnya, Kisah Seorang Anak Laki-Laki yang Durhaka Mendekati Sang Bidadari “Hmm, cantik sekali bidadari ini. Aku akan lekas mendekatinya,” ucap Oheo dalam hati. Ia lalu berjalan mendekati wanita itu. “Hai, wanita cantik. Apa yang kau lakukan di sini? Siapa namamu?” tanya pria itu pura-pura tidak tahu. “Namaku Putri Anawai. Aku sedang mencari-cari selendangku. Apakah kamu melihatnya?” tanya Putri. “Selendang? Aku tak melihatnya,” ucap Oheo berbohong. “Benarkah kamu tak melihatnya? Tidak ada orang lain di hutan ini selain kamu. Jangan-jangan kamu menyembunyikannya?” tanya sang Putri memelas. “Kenapa kau menuduhku? Akan aku bantu mencari selendangmu. Tapi, jika aku berhasil menemukannya, kamu harus menikahiku!” ucap pria itu. “Aku tidak mau! Tujuanku mencari selendangku adalah untuk kembali ke asalku. Aku bisa mencarinya sendiri. Kau tak perlu membantuku,” bentak Putri Anawai. Lalu, Putri Anawai mencari ke seluruh penjuru sungai dan hutan. Tapi, ia tak kunjung menemukan selendenganya. Hingga akhirnya, ia pun kelelahahn dan menangis karena tak bisa pulang. Setelah itu, Oheo kembali menemui Putri Anawai yang sedang putus asa. Ia lalu menunjukkan selendang milik bidadari itu. “Inikah yang kamu cari?” ucap Oheo. “Benar kataku! Kau menyembunyikan selendangku! Cepat kembalikan milikku sekarang juga!” bentak Putri Anawai. “Tidak semudah itu, Putri. Aku akan mengembalikannya jika kamu mau menikah denganku,” ucap Oheo memaksa. Perjanjian Pernikahan Awalnya, Putri Anawai menolak. Namun, karena tak bisa berkutik, ia pun menerima permintaan pria itu. “Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Tapi ada syarat yang harus kau penuhi!” ucap sang Putri. “Harusnya sedari tadi kau menerima tawaranku. Kenapa harus mempersulit hidupmu sendiri. Cepat ucapkan permintaanmu. Aku akan berusaha untuk mengabulkannya,” ucap petani tebu ini. “Aku tak ingin membereskan rumah. Kamu harus memperlakukanku dengan istimewa. Jika nanti aku punya anak darimu, kamulah yang harus membersihkan kotorannya,” ucap sang Putri. Tanpa pikir panjang, Oheo langsung menyetujui permintaan tersebut. “Baiklah, aku setuju dengan permintaanmu. Bagiku hal-hal tersebut tidaklah menjadi masalah buatku,” ucapnya. Kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan. Sesuai perjanjian, Putri Anawai tidak melakukan pekerjaan rumah. Mulai dari masak, membersihkan rumah, hingga bekerja, semua Oheo lakukan sendiri. Tak berselang lama setelah menikah, Putri Anawai pun hamil dan melahirkan. Setiap anaknya buang hajat, Oheo lah yang membersihkan kotorannya. Lama kelamaan, Oheo merasa tak terima. Ia kerap memarahi Putri Anawai. “Ini kan pekerjaan sederhana! Harusnya kamu tak perlu membuatku membersihkan kotoran bayi ini!” bentak pria itu. “Bukannya kau sudah berjanji bakal membersihkan kotoran anak kita? Kalau kau tak bisa menepatinya, cepat kembalikan selendangku. Lebih baik aku kembali ke khayangan,” ancam Putri Anawai. Merasa takut ditinggal oleh sang istri, Oheo pun menuruti perkataannya. Ia dengan sangat terpaksa membersihkan kotoran dari anak mereka. Setiap hari, ia juga memandikan dan mengganti baju sang anak. Tak Lagi Takut dengan Ancaman Putri Anawai Pada suatu hari, Putri Anawai berteriak-teriak memanggil suaminya. Alasannya karena sang anak buang air besar. Karena sedang lelah dan kesal, Oheo menolak permintaan sang istri. “Kali ini aku tak akan membersihkannya. Aku lelah!” ucap sang suami. “Bagaimana dengan janji-janjimu? Kau hendak mengingkari janjimu!” ucap Putri Anawai. “Ah terserah! Jika kau ingin kembali ke khayangan, kembalilah! Aku tak peduli lagi dengan janji kita!” bentak Oheo seraya meninggalkan rumah. Putri Anawai lalu membersihkan kotoran anaknya sambil menangis. Ia teringat akan janji-janji suaminya di masa lalu. Tak hanya itu, dirinya juga teringat dengan kehidupannya semasa di khayangan. Karena itu, ia pun memutuskan untuk kembali ke khayangan. Ia berusaha mencari selendangnya di rumah. Tak lama kemudian, ia pun berhasil menemukannya. Ia lalu mencium anaknya sambil menangis. “Maafkan aku, Nak! Ayahmu telah ingkar janji. Ibu tak bisa hidup seperti ini. Maafkan Ibu harus meninggalkanmu,” ucap Putri Anawai sambil memeluk anak bayinya. Ia lalu mengenakan selendangnya dan kembali ke khayangan. Kembalinya ke rumah, Oheo terkejut mendengar anaknya menangis sendirian. Ia pun mencari-cari istrinya, tapi tak kunjung ketemu. Lalu, ia melihat tempatnya menyimpan selendang. “Ah, kamu ternyata benar-benar kembali ke khayangan,” ucapnya menyesal telah membentak Putri Anawai. Merawat Anak Seorang Diri Oheo merasa kesulitan merawat anaknya seorang diri. Tiap hari ia menggendong anaknya yang menangis minta susu. Karena sudah tak kuat lagi melihat anaknya menangis, ia pun mencari tahu bagaimana cara pergi ke khayangan. Ia sangat ingin bertemu dengan Putri Anawai. Setelah mencari-cari tahu, ia akhirnya berhasil mendapatkan informasi penting. Menurut para warga, Oheo harus menemui Suku Tolaki untuk meminta bantuan pergi ke khayangan. Dengan membawa anaknya, Oheo pun memberanikan diri untuk menemui orang-orang Suku Tolaki. Ia mengatakan alasannya ingin pergi ke khayangan dengan anaknya. Pemimpin Suku Tolaki pun setuju untuk membantunya. Tapi, ada syarat yang harus ia penuhi. Syarat tersebut cukup sulit, yakni Oheo harus membuat cincin dari rotan bernama ue wai yang tumbuh di hutan belantara. Meski berat, dengan senang hati Oheo mencari rotan ue wai sambil menggendong anaknya. Ia sangat menyesal telah memperlakukan sang istri dengan sangat buruk. Setelah berhasil membuat banyak cincin, Oheo kembali menemui Suku Tolaki. Kemudian, pemimpin suku itu memintanya memeluk erat-erat sang anak dan duduk di atas cincin-cincin yang terbuat dari ue wai tersebut. Pemimpin Suku Tolaki juga berpesan, “Tutuplah matamu. Jika nanti ada suara pertama, jangan buka mata. Tetaplah tutup matamu da gendong erat-erat anakmu. Jika kau sudah mendengarkan suara kedua, bukalah matamu.” Baca juga Cerita Rakyat Ular Kepala Tujuh dari Bengkulu & Ulasan Menariknya, Bukti Kerendahan Hati dan Keberanian Bisa Mengalahkan Kekejian Tiba di Khayangan Oheo mengikuti saran kepala Suku Tolaki tersebut. Setelah mendengar suara kedua, ia telah berada di khayangan. Keberadaannya pun diketahui oleh salah satu bidadari khayangan. Dengan cepat, bidadari itu melaporkan keberadaan Oheo pada sang Raja. “Tuan, aku melihat seorang pria manusia bersama anaknya di halaman khayangan. Tampaknya, pria itu adalah Oheo yang sempat mencuri selendang Putri Anawai,” ucapnya. Sang Raja terkejut, “Bagaimana bisa ia sampai ke sini? Baiklah, aku akan mengurusnya. Sampaikan pada Putri Anawai bahwa suami dan anaknya datang kemari.” Setelah itu, Raja menemui Oheo. “Wahai manusia, bagaimana kau datang kemari? Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya sang Raja. “Mohon maaf, Baginda Raja. Nama saya Oheo, suami dari Putri Anawai kala di bumi. Tujuan kedatatangan saya adalah untuk minta maaf pada Putri Anawai. Dan putra kecil ini adalah anak kami. Ia setiap hari menangis mencari ibunya,” ucap Oheo. “Hmm, pertama-tama, perbuatanmu mencuri selendang anakku, Putri Anawai, itu salah. Kedua, kau tak seharusnya mengkhianati janji kalian. Meski begitu, aku menghargai usahamu untuk beremu dengan anakku,” ucap sang Raja dengan bijak. “Saya mengaku salah, Raja. Saya ke mari hendak meminta maaf dan mengakui segala kesalahan saya. Demi anak kami, saya rela melakukan apa pun asal Putri Anawai mau kembali ke bumi,” ucap Oheo. “Tentu tak semudah itu, Pemuda! Ada syarat yang harus kau penuhi untuk bisa membawa kembali putriku ke bumi. Untuk saat ini, aku melarangmu bertemu dengan anakku,” ucap sang Raja. “Syarat apa yang harus kupenuhi, Baginda Raja?” tanya pemuda itu, “Pertama, kamu harus mampu menumbangkan batu-batu besar di khayangan ini. Kedua, kamu harus memungut bibit pada yang tertabur di padang rumput hingga bersih tanpa tersisa sedikit pun. Terakhir, kamu harus menemukan istrimu di tempat yang sangat gelap. Kalau gagal satu saja ujian, kau akan kukembalikan ke bumi tanpa Putri Anawai,” ucap sang Raja. Menjalankan Setiap Misi Ia berhasil menjalankan misi pertama dan kedua. Hal itu karena ia mendapatkan bantuan dari para hewan di khayangan, seperti tikus dan burung. Namun, ia tak yakin dengan ujian terakhir. “Bagaimana mungkin aku bisa menemukan Putri Anawai di tempat yang gelap gulita?” ucap Oheo dalam hati. Ia merasa misi ketiganya ini tak akan bisa ia selesaikan. Ia pun sedih teringat nasib anaknya yang tumbuh tanpa seorang ibu. Dalam keadaan bingung dan panik, tiba-tiba saja ada seekor kunang-kunang mendatanginya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Tampaknya kau sangat bingung,” tanya kunang-kunang itu. “Hai, kunang-kunang. Aku mendapatkan tiga tugas yang sangat berat dari Raja. Kedua tugas sudah kuselesaikan. Kurang satu tugas terakhir yang tampaknya tak bisa kuselesaikan,” ucap Oheo lemas. “Memangnya, apa tugas terakhirmu? Barangkali aku bisa memberimu bantuan,” ucap kunang-kunang. “Aku harus menemukan istriku di sebuah kamar yang gelap gulita. Sedangkan dalam kamar itu terdapat saudara-saudaranya. Mana bisa aku asal pilih wanita. Jika aka salah pilih, bisa-bisa Raja mengembalikanku dan anakku ke bumi tanpa Putri Anawai,” jelas Oheo. “Oh, jadi begitu rupanya. Kamu tidak perlu cemas. Aku akan membantumu,” ucap binatang kecil itu. “Bagaimana caranya kau membantuku?” tanyanya. “Lihatlah ekorku, bercahaya bukan? Nah, aku akan hinggap di setiap wanita yang ada di kamar itu, tugasmu adalah memastikan, wanita mana yang merupakan istrimu,” ujar kunang-kunang. “Wah, ide yang sangat cemerlang kunang-kunang. Terima kasih mau membantuku,” ujar Oheo. Saat malam menjelang, hati Oheo pun makin gelisah. Meski akan mendapatkan bantuan dari kunang-kunang, ia tetap khawatir tidak bisa menyelesaikan misi terakhir. “Ini adalah misi terakhir yang menentukan apakah aku akan berhasil membawa pulang Putri Anawai atau tidak. Jika gagal, sungguh aku teramat kasihan dengan anakku,” ucap Oheo merasa cemas. Menjalankan Misi Terakhir Tibalah saatnya misi terakhir tuk Oheo selesaikan. Ia bersama dengan kunang-kunang memasuki sebuah ruangan yang gelap gulita. Perlahan-lahan, kunang-kunang itu menghinggapi satu persatu wanita yang ada di ruangan itu. Setelah beberapa wanita terlewati, berhasilah Oheo menemukan istrinya. Pria itu tersenyum lebar. Ia langsung memegang tangan istrinya dan berkata, “Putri Anawai, maafkan aku. Aku berjanji tak akan membuatmu membersihkan kotoran anak kita lagi. Kumohon kembalilah. Anak kita menangis mencarimu setiap hari,” ucap Oheo. Karena berhasil menuntaskan ketiga tugas dari Raja, Oheo pun diperbolehkan membawa pulang Putri Anawai. Hanya saja, sang Putri tampak kesal dan agak keberatan. Ia sebenarnya tak ingin kembali ke bumi. Namun, karena Raja telah mengutusnya, mau tak mau Putri Anawai, kembali ke bumi dan tinggal dengan Oheo. Mereka lalu turun ke bumi menggunakan seutas tali. Sesuai dengan janjinya, Oheo selalu membersihkan kotoran anaknya. Ia juga tak lagi membentak sang istri. Untuk mempermudah merawat anak, Oheo membuat pekarangan tebu di sekitar rumahnya. Ia tiap pagi hingga sore bekerja di pekarangan. Ketika si kecil buang air besar, dengan sigap pria itu membersihkannya. Ketulusan hati dan kegigihan Oheo membuat Putri Anawai terkesima. Sang bidadari itu pun lama kelamaan mencintai suaminya. Karena telah cinta, Putri Anawai dengan sukarela membersihkan kotoran anaknya. Ia juga terkadang membantu suaminya bekerja di pekarangan. “Karena telah tinggal di bumi, aku akan hidup layaknya seorang manusia yang bekerja dan saling membantu, Suamiku,” ucapnya pada sang suami. Kini, mereka pun hidup makmur dan bahagia. Hasil perkebunan tebu milik Oheo sangatlah berlimpah. Tak jarang, Raja dan para bidadari lainnya berkunjung ke rumah Oheo dan Putri Anawai. Baca juga Legenda Putri Ular dari Bengkulu dan Ulasannya, Kisah Seorang Putri Cantik yang Berubah Menjadi Ular Unsur Intrinsik Usai membaca cerita rakyat Oheo dan Putri Anawai, kurang lengkap rasanya bila kamu tak menyimak unsur intrinsiknya. Mulai dari tema hingga pesan moralnya, berikut adalah ulasan singkatnya; 1. Tema Inti cerita atau tema cerita rakyat Oheo adalah tentang pernikahan seorang manusia biasa dengan bidadari. Sesuai kesepakatan, bidadari mau menikah dengan manusia. Tapi, manusia itu melanggar janji sehingga bidadari pun murka dan memutuskan tuk kembali ke khayangan. Namun, karena perjuangan si manusia, akhirnya bidadari itu mau kembali ke bumi lagi. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dalam cerita rakyat ini, yaitu Oheo dan Putri Anawai. Awalnya, Oheo digambarkan sebagai petani tebu yang tak berperesaan karena tega mengambil salah satu selendang dari para bidadari. Ia bahkan memaksa sang pemilik selendang itu untuk menikah dengannya. Mereka lalu menikah dengan beberapa peryaratan. Akan tetapi, petani tebu ini mengingkari janjinya. Meski begitu, pada akhir cerita Oheo mampu mengubah sikapnya. Ia menjadi pria sejati yang tulus dan gigih mencintai istrinya. Sementara itu, Putri Anawai digambarkan sebagai sosok bidadari yang cantik jelita. Ia mengalami masa yang sulit dan berat karena selendangnya dicuri oleh Oheo. Karena itu, sikapnya menjadi egois dan maunya menang sendiri. Pada akhirnya, ia bersikap baik setelah mendapatkan perlakuan baik dan tulus dari Oheo. Selain mereka berdua, kisah ini juga memiliki tokoh pendukung yang turut mewarnai jalan ceritanya. Ia adalah sang Raja alias ayah dari Putri Anawai. Cerita ini menggambarkan sang Raja sebagai sosok yang bijak dan baik hati. 3. Latar Legenda ini menggunakan beberapa latar tempat. Pada awal cerita, latar yang digunakan adalah hutan, sungai, dan kebun tebu. Lalu, cerita berpindah ke rumah Oheo, tempat Suku Tolaki, dan khayangan. 4. Alur Cerita Rakyat Oheo Cerita rakyat Oheo memiliki alur maju. Kisahnya bermula dari seorang pemuda bernama Oheo yang mengambil selendang bidadari bernama Putri Anawai. Oheo lalu memaksa Putri Anawai untuk menikah dengannya. Dengan syarat tak ingin membersihkan kotoran anaknya, sang bidadari cantik itu mau menikah dengan Oheo. Awalnya, pemuda itu menepati janjinya. Namun, ia melanggar janjinya. Putri Anawai pun murka dan memutuskan tuk pulang ke khayangan, meninggalkan anak dan suaminya. Tentu saja Oheo kelimpungan. Setiap hari anaknya menangis mencari ibunya. Karena itu, pria itu menemui Suku Tolaki untuk meminta bantuan agar bisa pergi ke khayangan untuk bertemu dengan istrinya. Suku Tolaki sanggup membantunya asalkan ia bisa membuat cincin-cincin dari rotan ue wai. Ia pun sanggup memenuhi persyaratan tersebut dan segera naik ke khayangan bersama sang anak. Sesampainya di sana, ia harus menjalankan tiga misi dari sang Raja untuk bisa membawa pulang Putri Anawai. Dibantu oleh beberapa hewan, ia sanggup menyelesaikan ketiga misi tersebut. Meski awalnya keberatan kembali ke bumi, akhirnya Putri Anawai pun luluh dengan kegigihan dan ketulusan hati Oheo. 5. Pesan Moral Apa sajakah pesan moral dari cerita rakyat Oheo dari Sulawesi Tenggara ini? Karena ceritanya cukup panjang, tentu saja ada beberapa pesan moral atau amanat yang bisa kamu petik. Pertama, janganlah mengambil apa yang bukan milikmu. Kamu tak akan tahu betapa berharganya benda tersebut bagi pemiliknya. Jangan seperti Oheo yang mengambil selendang milik Putri Anawai. Padahal, tanpa selendang itu, sang bidadari tak bisa kembali ke asalnya. Amanat kedua, janganlah kamu memaksakan kehendak dan keinginanmu. Ketiga, jangan mudah menyerah. Oheo tak putus asa dan terus berusaha untuk mendapatkan hati Putri Anawai. Ia menyesal telah mengingkari janjinya. Karena itu, ia berjuang mati-matian tuk bisa hidup kembali bersama dengan Putri Anawai. Amanat terakhir, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Karena telah berusaha dengan sepenuh hati, akhirnya Oheo berhasil membawa pulang Putri Anawai. Ketulusan dan kegigihan pria itu juga mampu meluluhkan perasaan Putri Anawai. Selain unsur-unsur intrinsiknya, jangan lupakan juga unsur ekstrinsik yang membangun cerita rakyat Oheo. Unsur ekstrinsik ini biasanya berhubungan dengan nilai moral, sosial, dan budaya. Baca juga Kisah tentang Si Kelingking Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Pelajaran untuk Tidak Meremehkan Penampilan Fisik Seseorang Fakta Menarik Kisah ini memiliki beberapa fakta menarik yang sayang untuk kamu lewatkan. Karena itu, yuk, simak langsung saja dua fakta menarik dari cerita rakyat Oheo berikut ini; 1. Ada Versi Cerita Lainnya Seperti cerita rakyat pada umumnya, legenda Oheo juga memiliki beragam versi cerita. Secara garis besar tetap sama, cerita rakyat Oheo mengisahkan tentang seorang pemuda yang mencuri selendang bidadari. Namun, pencurian itu dilakukannya lantaran kesal terhadap burung nuri yang kerap merusak ladang tebu miliknya. Setelah ia teliti asal mulanya, burung-burung nuri itu ternyata datang dari khayangan bersama dengan bidadari-bidadari cantik. Selain itu, perbedaan kisahnya juga terletak pada cara Oheo pergi ke khayangan. Ia tak membuat cincin dari rotan ue wei, melainkan memanjatnya. Rotan itu sangat tinggi sehingga bisa tembus sampai khayangan. Sesampainya di khayangan, kedatangannya tidak disambut dengan baik oleh Raja dan para bidadari. Mereka mengecamnya karena telah mencuri selendang milik Putri Anawai. Namun, karena merasa iba dengan anak Oheo dan Putri Anawai, sang Raja pun mengizinkan putrinya kembali ke bumi. 2. Mirip dengan Kisah Jaka Tarub dari Jawa Jika di Sulawesi Tenggara ada kisah Oheo, di Pulau Jawa populer dengan kisah Jaka Tarub. Kisah dalam kedua cerita rakyat tersebut hampir sama. Jaka Tarub juga mengambil salah satu selendang dari 7 bidadari yang sedang mandi di sebuah danau. Selendang itu ternyata milik Nawangwulan. Jaka Tarub menyembunyikan selendang itu lalu pura-pura menolong Nawangwulan. Setelah itu, mereka menikah dan tinggal bersama, kemudian memiliki momongan. Lambat laun, Nawangwulan menemukan bahwa selendangnya tersembunyi di lumbung padi. Sontak, hal tersebut membuatnya marah besar. Ia pun meninggalkan Jaka Tarub dan anaknya, kemudian kembali ke khayangan. Kadang-kadang Nawangwulan kembali ke bumi untuk menyusui anaknya. Akan tetapi, ia enggan menemui Jaka Tarub. Ia sangat marah dan tak akan pernah memaafkan pria yang telah membohonginya itu. Baca juga Legenda Asal Usul Danau Malawen dan Ulasannya, Sebuah Imbauan untuk Mendengarkan Nasihat Kedua Orang Tua Tambah Wawasan Lewat Cerita Rakyat Oheo dari Sulawesi Tenggara Ini Demikianlah artikel yang membahas tentang cerita rakyat Oheo yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Semoga saja, membaca kisahnya bisa menambah wawasanmu tentang cerita-cerita Nusantara. Dari cerita ini, diharapkan juga kamu dapat memetik beberapa pesan moralnya. Kalau suka dengan kisahnya, bagikan artikel ini ke teman-teman, saudara, adik, atau anakmu. Teruntuk yang butuh kisah lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena di Ada legenda Tanjung Menangis, kisah Putri Tangguk, asal-usul nama Balikpapan, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Dongeng Persahabatan Kera dan Ayam Budaya Nusantara berkembang sangat luas dari Sabang sampai Merauke. Pada artikel blog The Jombang Taste sebelumnya kita sudah membaca cerita dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Sulawesi Utara serta dongeng asal-usul Puteri Duyung dari Sulawesi Tengah. Artikel kali ini menampilkan cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara yang berjudul cerita fabel persahabatan kera dan ayam. Selamat membaca. Pada jaman dahulu hidup dua binatang yang bersahabat erat, yaitu kera dan ayam. Mereka berdua tinggal di dalam hutan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kelihatannya mereka berdua selalu hidup rukun dan darnai. Tapi, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Setelah sekian lama mereka bersahabat, barulah ketahuan perilaku buruk si kera. Pada suatu hari si kera membuat siasat untuk menjebak ayam. “Hai Ayam, sahabatku,” panggil kera dengan muka manis. “Ada apa kera?” jawab ayam. “Sore-sore begini enaknya kita jalan-jalan. Maukah kau pergi bersamaku?” kata kera dengan nada merajuk. “Memang kita mau pergi ke mana? ” tanya ayam ingin tahu. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke hutan. Disitulah tempat aku biasa bermain. Di sana tempatnya indah. Pasti kamu akan suka!” ujar si kera seraya mernbujuk. Kera Menjebak Ayam di Hutan Ayam tertarik dengan ajakan si kera. Ia tidak pernah tahu kalau kera punya tempat bermain yang indah. Tanpa rasa curiga sedikitpun, ia mengikuti kera untuk berjalan-jalan di hutan. Ayam berjalan di belakang kera. Hari semakin gelap, perut kera mulai meronta-ronta minta diisi. Saat itulah timbul niat busuk kera untuk mencelakai ayam. “Untuk apa aku susuh-susah mencari makanan. Di belakangku saja sudah ada makanan yang sangat lezat,” pikiran kera mulai licik. Kera melihat ayam tampak kebingungan masuk ke dalam hutan. Ayam itu tampak besar dan segar. Hmm, pasti enak kalau daging ayam itu masuk ke dalam perutnya. Kera berpikir, jika ayam hendak dimakannya, lebih baik jika tanpa bulu. Oleh karena itu, ia hendak mencabuti bulu ayam terlebih dahulu. Kera mengatur waktu yang tepat untuk menangkap ayam. Ayam dan kera berjalan semakin jauh dan masuk ke dalam hutan. Saat itu hari makin gelap, kera pun melaksanakan niatnya. Ia segera menangkap ayam. “Kena kau!” ujar kera kegirangan saat berhasil menangkap ayam. Ayam tampak terkejut melihat perlakuan kera. “Mengapa kau menangkapku? Bukankah kita saling bersahabat?” tanya ayam dengan nafas terengah-engah. “Dulu kita sahabat. Tapi sekarang aku lapar. Maka kau harus mau jadi makananku,” kata kera dengan tawa terbahak-bahak. Kera yang jahat itu kemudian mencabuti bulu-bulu si ayam. “Tidak…! Jangan kau cabut buluku! Sakit…!” teriak ayam dengan suara pilu. Ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Ayam mencoba lari dari cengkeraman si kera jahat. Lalu pada sebuah kesempatan yang tepat, ayam mematuk tangan kera hingga kera itu melepaskan tubuh ayam dalam genggamannya. Setelah berusaha keras tanpa mengenal lelah melompat kesana-kemari, akhirnya ayam berhasil melarikan diri. Ayam berlari sekencang-kencangnya keluar dari hutan. Setelah sekian lama ayam berlari, tibalah ia di rumah sahabatnya yang lain. Ayam tiba di rumah kepiting. Kepiting yang melihat ayam tidak berbulu dan tampak kelelahan membuatnya penasaran. Ia pun bertanya. “Kamu kenapa, ayam? Mengapa napasmu terengah-engah? Kenapa bulu-bulumu rontok semua?” tanya kepiting dengan rasa iba. “Kepiting, aku dicelakai oleh sahabatku sendiri si kera. Ia hendak memakanku,” jawab ayam dengan napasnya yang masih terengah-engah. “Kurang ajar! Tega sekali kera berbuat seperti ini kepadamu,” ucap kepiting tidak percaya. Kemudian ayam menceritakan kejadian dari awal sampai akhir. Mulai dari ajakan kera mengunjungi tempat bermain sampai ia dijebak oleh kera dan akan dimakannya. “Kera harus kita beri pelajaran!” ucap kepiting dengan geram usai menyimak penuturan ayam. Ayam dan kepiting kemudian mengatur siasat untuk memberi pelajaran kepada si kera. Mereka tampak bermusyawarah dengan serius. Tak lama kemudian kepiting membantu ayam menyembuhkan bulu-bulunya yang rontok. Pembalasan Untuk Kera Pengkhianat Beberapa bulan kemudian bulu-bulu di tubuh ayam telah pulih. Ayam dapat mencari makan seperti sedia kala. Ayam kembali bertemu dengan kepiting. Kepiting mengajak ayam menemui kera. Awalnya ayam tidak mau. Ia masih takut kepada kera. “Inilah saat yang tepat untuk menghukum sahabat pengkhianat macam kera itu,” kata kepiting berusaha meyakinkan ayam. “Tapi aku masih takut…” kata ayam. “Tenanglah. Aku akan membantumu,” ujar kepiting. Akhirnya ayam menuruti ide kepiting. Pada hari yang telah disepakati bersama, mereka berdua datang ke tempat kera. Kera tampak asyik duduk di kursi malas. Ayam masih tampak ketakutan melihat si kera. Ia ragu untuk berbicara dengan kera. Akhirnya, kepitinglah yang berbicara kepada kera. “Hai kera, dua hari lagi aku dan ayam akan pergi berlayar ke pulau seberang. Disana banyak makanan enak,” ujar kepiting kepada kera. “Benarkah? Bolehkah aku ikut berlayar dengan kalian,” ucap kera penuh harap. “Boleh saja. Dua hari lagi kami tunggu di pantai. Jangan sampai terlambat ya,” kata kepiting. Tibalah pada hari yang telah disepakati. Mereka berdua bertemu di pinggir pantai. Sebelum mereka berangkat berlayar, perahu dari tanah liat telah disediakan. Ayam dan kepiting sengaja mempersiapkan jauh-jauh hari rencana pembalasan ini. Mereka bertiga bergegas naik perahu menuju pulau seberang. Perahu yang mereka tumpangi semakin lama semakin menjauh dari pantai. Kera yang rakus mulai membayangkan betapa lezatnya buah-buahan yang akan disantapnya nanti, sedangkan ayam dan kepiting mulai saling memberi sandi. Ayam berkokok, “Kukuruyuk….! Aku lubangi kok… kok…. kok….!” Si kepiting menjawab, “Tunggu sampai dalam sekali.” Setiap Kepiting selesai berkata begitu, ayam mematuk-matuk perahu itu. Mereka kemudian mengulangi permainan itu lagi. Si Kera sama sekali tak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan ayam dan kepiting. Sedikit demi sedikit perahu itu berlubang. Air laut mulai merembes ke dalam perahu. Lama-kelamaan perahu yang mereka tumpangi bocor. Kera mulai panik tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Perahu semakin lama semakin tenggelam. Kepiting dan ayam bersiaga meninggalkan kera. Mereka bertiga berusaha menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing. Si kepiting menyelam ke dasar laut, sedangkan si ayam dengan mudah terbang ke darat. Si kera tampak ketakutan sendirian di atas perahu. Pada dasarnya kera paling takut pada air, apalagi air laut. Ia berusaha meronta-ronta minta tolong, tapi siapa yang dapat menolongnya karena ia sendirian di tengah lautan. Kera juga tidak bisa berenang, maka matilah si kera yang licik itu di tengah lautan yang dalam. Demikian akhir dari cerita fabel kera dan ayam. Amanat cerita dongeng kera dan ayam ini adalah perbuatan jahat akan mendapatkan balasan yang menyakitkan. Jika kita mempunyai sahabat, maka kita tidak boleh mengkhianati sahabat kita. Selain itu, sifat rakus kera telah mematikan kepandaiannya sehingga ia menemui celaka akibat perbuatannya sendiri. Semoga cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara ini bisa memberi inspirasi bagi Anda. Sampai jumpa di artikel The Jombang Taste berikutnya. Daftar Pustaka Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya Artikel Terkait
Apakah kalian tahu burung Garuda yang menjadi lambang negara kita? Konon burung Garuda sangat besar dan kuat. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara yang akan Kakak ceritakan malam hari ini berkisah tentang seorang ksatria dan Burung Garuda. Kisah ini menjadi legenda asal muasal terbentuknya Gunnung Mekongga yang berada di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kalian pasti suka dengan dongeng anak yang kakak ceritakan malam hari ini. Selamat membaca. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Asal Usul Gunung Mekongga Dahulu kala, daerah Kolaka dilanda musibah yang cukup mengerikan. Seekor burung garuda raksasa sering datang memangsa ternak penduduk. Penduduk banyak yang kehilangan ternak milik mereka. Lama-kelamaan, mereka khawatir ternak mereka akan habis. Dan jika tidak ada ternak lagi yang bisa disantap, penduduk khawatir burung garuda raksasa juga akan memangsa manusia. Kekhawatiran ini yang membuat beberapa wakil warga mencari seorang cerdik pandai bernama Larumbalangi. Ia terkenal dengan kesaktiannya, karena keris sakti, dan sarung sakti yang bisa dipakai untuk terbang. Mereka meminta pendapat Larumbalangi untuk melawan garuda raksasa itu. “Mudah saja. Kalian cari bambu tua dan buatlah menjadi beberapa bambu rucing. Kemudian pilihlah seseorang kesatria untuk dijadikan umpan. Bawalah orang itu ke tengah lapangan dan pagari dengan bambu-bambu runcing itu. Ujung bambu yang runcing haruslah menghadap ke atas. Biarkan ia menjadi daya tarik burung garuda raksasa untuk mendekat. Kelika burung itu sudah dekat, suruh orang tersebut menusukkan bambu runcing yang dipegangnya ke perut burung itu dan biarkan burung tersebut jatuh menancap pada bambu-bambu runcing di sekelilingnya.” Warga pun melaksanakan saran Larumbalangi. Mereka mencari orang yang bersedia dijadikan umpan untuk memancing burung garuda raksasa. Dengan demikian, diadakanlah sayembara bagi orang yang bersedia menjadi umpan. Jika pemenangnya seorang budak, ia akan dibebaskan dan diangkat menjadi bangsawan. Namun jika pemenangnya adalah seorang bangsawan, ia akan diangkat menjadi pemimpin. Dari sekian banyak orang yang berminat, hanya satu orang yang memenuhi syarat. Ia adalah seorang budak bernama Tasahea dari Negeri Loeya. Pada hari yang ditentukan, Tasahea dibawa ke tengah Padang Bende. Ia dikelilingi oleh beberapa bambu runcing yang sudah ditancapkan ke tanah. Kemudian semua warga mulai bersembunyi. Menjelang siang, tiba-tiba suasana menjadi mendung. Itu pertanda burung garuda raksaa telah datang. Burung mengerikan itu melihat mangsanya di Padang Bende. Burung itu mulai terbang mendekat. Tasahea segera mengambil kuda-kuda. Pada jarak yang cukup dekat, Tasahea melemparkan bambu runcing yang dipegangnya tepat mengenai perut burung garuda. Burung garuda raksasa itu menjerit keras. Ia terjatuh dan menancap ke bambu-bambu runcing yang sudah dipasang. Burung itu kembali menjerit kesakitan, dengan luka-luka di tubuhnya, ia mengepakkan sayapnya menjauh. Namun, karena lukanya cukup parch dan tenaganya sudah habis, ia jatuh dan mati di puncak gunung. Penduduk Kolaka bersuka cita. Mereka mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Namun, pada hari ketujuh, terjadilah wabah penyakit. Di mana-mana tercium bau bangkai. Banyak penduduk terserang penyakit muntah-muntah dan sakit perut, hingga meninggal dunia. Tumbuh-turnbuhan terserang ulat. Hasil panen termakan ulat, sehingga penduduk terserang kelaparan. Rupanya, bangkai burung garuda raksasa di atas gunung itu membusuk dan menimbulkan banyak penyakit. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Ksatria Dan Burung Garuda Beberapa orang wakil dari penduduk kembali mendatangi Larumbalangi. Mereka menceritakan bencana baru yang menyerang desa mereka. Larumbalangi terdiam sejenak sebelum kemudian berkata, “”Pulanglah kalian sekarang. Musibah ini akan segera berakhir.” Setelah mereka semua pergi, Larumbalangi berdoa kepada Yang Maha Kuasa. “Ya Tuhan. Tolong selamatkan penduduk Kolaka yang sedang dilanda masalah. Turunkanlah hujan besar hingga dapat menghanyutkan bangkai burung garuda dan ulat-ulat di pepohonan ke laut.” Tuhan mengabulkan permohonan Larumbalangi. Tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya. Sungai di Kolaka meluap. Bangkai dan tulang belulang burung raksasa serta ulat-ulat hanyut ke laut. Wilayah Kolaka pun bebas dari musibah mematikan itu. Gunung tempat jatuhnya burung garuda raksasa itu dinamakan Gunung Mekongga yang artinya tempat jatuhnya burung raksasa. Sementara itu, Tasahea, kesatria yang rela menjadi umpan burung garuda diangkat derajatnya menjadi bangsawan. Kemudian Larumbalangi dipilih sebagai pemimpin Negeri Kolaka. Di Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara terdapat Gunung Mekongga dengan ketinggian sekitar 2620 m. Gunung Mekongga adalah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Ksatria Dan Burung Garuda adalah selama menghadapi segala persoalan kita tidak boleh mudan putus asa. Ikuti cerita rakyat Sulawesi Tenggara lainnya pada artikel kakak berikut ini Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi
cerita rakyat dari sulawesi tenggara